Saya ingin mencapai 70 Kg

Posts tagged ‘Pesawat’

Penerbangan pertama gw.

Malu aku malu, umurku sudah 22 tahun tetapi baru hari ini aku mencoba perjalanan dengan pesawat terbang. maklumlah, orang miskin. kalau bukan company yang bayarin, mana punya duit. company suruh aku ke perusahaan client di Malang, dan keberangkatan jam 1 siang dengan Sriwijaya.
Sriwijaya

Gw memang sudah punya feeling gak enak dari awal. Bukan nakut-nakutin diri sendiri, tapi mungkin juga karena penerbangan ini pertama buat gw. Entah karena grogi atau apa.

Dari mulai pesawat ini mulai naik, gw udah mulai dikejutkan. Getaran pada kapal ini membuat gw memikirkan menit2 berikutnya diudara. pertanyaan yang sering muncul dikepala gw adalah:
“APAKAH INI NORMAL?”
Karena gw lihat sekeliling gw sedang ngobrol asik, becanda, tiduran, pokoknya tidak mengkhawatirkan apapun. gw pun jadi lebih tenang, dan perjalanan sampai di Malang terasa mengasyikkan.
Sang pramugari mengumumkan tata cara pemakaian seat belt, kabel oksigen, pelampung dsb.
lalu mereka menyediakan permen, makanan, minuman dan bacaan. membuat gw melupakan bahwa gw sedang berada diatas awan. dan pikiran-pikiran buruk tentang kecelakaan di udara.
sampai akhirnya mereka mengumumkan bahwa beberapa menit lagi pesawat akan mendarat.

Saat pesawat mendarat, ada sedikit goncangan lagi. sedikit, entah, tapi menurutku sih sedikit karena reaksi orang-orang di sekelilingku masih biasa saja. kalau ada yang terlihat agak kaget, aku anggap dia juga pertama kalinya terbang dengan pesawat.
Setelah itu ada goncangan lagi, lagi dan lagi. mungkin karena sedang menabrak awan atau beberapa angin. awalnya kupikir bahwa proses pendaratan memang begitu. pesawat sepertinya harus oleng dulu, baru bisa mendarat.
setelah itu barulah aku merasa jatuh bebas diatas kursiku. DAMN! gw kaget banget tapi gak mau berteriak takut dikira norak.
takut juga rasa takut ini tertular ke semua orang dan menciptakan kepanikan lokal.
Untung itu hanya terjadi sekitar 2 detik.
Secara logika memang tidak masuk akal kalau sang pilot sengaja turun seperti itu untuk mempercepat pendaratan. ajegile!
Kalau gitu itu namanya apa?
“APAKAH INI NORMAL?”
Gw masih melihat bule (USA) disamping gw dengan tenang bercerita dan melucu dengan cewek Filipina disampingnya.

Ok. gw anggap ini normal. walaupun bos gw dipojok udah mengkerut dahinya.

DAMN! Jatuh bebas lagi! Jantung gw berdegup. Kali ini goncangan-goncangannya lebih kenceng. Kayaknya pesawat ini nabrak awan putih yang besar, soalnya gw lihat di jendela dari depan ke belakang: PUTIH SEMUA TERTUTUP AWAN.
Ini artinya pilot gw pun cuma bisa mengandalkan koordinat plus feeling.
Parameter gw untuk menjawab pertanyaan gw: “APAKAH INI NORMAL?” dijawab oleh bos gw.
“Ini udah gak normal nih. biasanya gak kayak begini nih..”

Dan tiba-tiba gw merasa posisi pesawat berubah drastis. gw asal nebak aja kalau pesawat ini sedang naik ke atas lagi dan tidak memaksakan diri untuk mendarat. Ini lebih baik, kembali gw melihat awan-awan yang indah dari tempat yang begitu tinggi. dan dugaan gw benar, pesawat ini buru-buru naik ke atas untuk menghindari gunung-gunung yang tak terlihat di sekitar landasan udara Abdurahman TNI-AU.

Ternyata gw sadar bahwa pesawat ini telah berusaha turun ke bawah, namun menabrak awan putih tebal yang menggoncang-goncangkannya, akhirnya naik juga keatas. Pesawat kami mengalah demi menang kepada awan tebal itu. Dan gw hanya berdoa supaya pilot tidak coba-coba turun lagi sebelum keadaan dibawah benar-benar membaik. atau nyawa puluhan penumpang menjadi taruhan dan siap dicetak dalam surat kabar, juga di http://detik.com/.

Pesawat berputar, rasanya sih begitu, sebab gw merasa posisi pesawat agak berubah. Mungkin ia membatalkan pendaratan di Malang dan beralih ke Surabaya. Kalau benar begitu, itu lebih baik. Dan saat ini Bos gw, yang sering bepergian dengan pesawat, sedang komat-kamit berdoa. Di dalam pikiran bos gw saat itu, ia mengharapkan pesawat beralih ke Surabaya saja.

Tetapi harapan kita tidak terwujud. Sekali lagi gw merasa pesawat ini sedang berusaha turun, dan kami pun mengalami hal serupa, tapi 2 kali lebih menyeramkan. goncangan. lebih keras. goncangan lagi. kini bukan hanya awan putih, tetapi pesawat kami menabrak awan mendung. dari kaca yang kulihat, dari depan kebelakang: GELAP. Tiba-tiba semua penumpang MELONCAT dari tempat duduknya masing-masing. barang-barang yang tak tertahan pun pada jatuh. Sekali lagi, untung saja hal itu hanya terjadi sekitar 2 detik. Lebih dari itu, tidak baik untuk jantung kami semua.

Pesawat tidak hentinya berayun-ayun. GW SERIUS, INI PESAWAT SEDANG BERAYUN-AYUN KE KANAN DAN KE KIRI. Sepertinya, si pilot sedang berusaha sekuat tenaga menjaga keseimbangan pesawat ini. Waduuh, bos gw semakin tegang. Gw pun berusaha menenangkan diri dengan memegangi kursi depan. Bule USA yang berisik disamping gw pun sedang diam saat itu. tidak ada yang bicara. tidak ada suara. semua sedang menunggu apakah yang akan terjadi kemudian. dan keadaan ini menjadi sebuah moment dimana gw berusaha mengakui semua dosa-dosa gw. minta ampun kepada Allah atas apa yang gw lakuin selama ini. Hanya saja gw gak bisa membayangkan tangisan orangtua gw, nyokap gw terutama, pacar gw, sahabat2 gw.
Dan ini adalah saat gw MEMINTA pertolongan dari TUHAN. Dan gw bernazar. gw menjanjikan TUHAN satu hal, gw akan lakukan itu untuk TUHAN. pasti. tapi karena nazar gw pribadi dengan TUHAN, tidak akan gw publikasikan disini.
Dan barulah saat itu gw berusaha untuk memasrahkan hidup dan mati gw di tangan TUHAN saja. Gw berusaha bersikap sebagai seseorang yang memiliki TUHAN. Dan memang begitu adanya.
“Sudah cukup TUHAN. goncangan ini sudah cukup menggoncangkan hatiku TUHAN. aku akan lakukan hal itu bagiMu Allah.”

Entah, mungkin terdengar seperti menyogok TUHAN. Tapi bagi gw, TUHAN sedang menegur gw dengan begitu KERAS.

Beberapa saat kemudian, untuk kali yang kedua pesawat ini buru-buru naik. Memang tidak ada pilihan lain bagi pilot ‘buta’, kecuali naik ke atas agar dapat melihat. Gw mulai agak lega. Sebenarnya, sejak gw mengucapkan nazar gw dalam hati, gw pun sudah agak lega walaupun keadaan begitu rupa. Entah lega, entah suatu kepasrahan hidup. Gw mempercayakan hidup gw kepada TUHAN saat itu.

Masih ingat? sang pramugari mengakatakan bahwa dalam beberapa menit pesawat akan mendarat. Tetapi ini sudah lebih dari setengah jam. bukan cuma 5 atau 10 menit pendaratan normal. 2 kali percobaan pendaratan gagal, dan ini adalah kali ketiga.

Dan akhirnya, sekali lagi pesawat ini berputar dibawah awan-awan hitam yang luas. semakin dekat ke tanah.
Di jendela kanan gw, pohon-pohon kelapa yang cukup jelas terlihat. di jendela kiri gw, cuma awan. YUP! itu artinya pesawat ini sedang miring begitu rupa sehingga hanya satu bagian jendela mampu melihat ke bawah, dan yang lainnya melihat ke atas.
GUNUNG! gw baru sadar kalau itu adalah gunung ketika gw melihat ke sekeliling di jendela kanan gw. Entah pesawat ini sedang mengitari gunung (bodohnya) atau sedang MENGHINDARI SEBUAH GUNUNG. gw gak tau. yang penting saat ini pemandangan di jendela semakin membaik. dan gw berkata pelan kepada RIdwan di samping dan bos gw yang dipojok: It’s clear.

Dan setelah itulah, gw sadar pesawat sedang turun dengan mulus. akhirnya kami tiba dengan selamat.
Bos gw cuman bilang: “Dari sekian banyak gw bepergian pake pesawat. jujur, kali ini yang gw paling takut.”

Bos gw penasaran dan akhirnya bertanya kepada pramugarinya sembari keluar pesawat : “Ini masih normal gak, mbak?”
Ia menjawab sederhana dan masuk akal buat gw: “Tidak, pak. Biasanya tidak seperti ini.”
Tetapi ditambah becandaan: “Tapi di bagian belakang, tornadonya terasa banget ya, pak.”
hehehe.. kamu pikir ini Dufan apah!?

Bener tuh, cuaca lagi kurang bagus. Kayaknya tadi hujan cukup deras. sekarang sudah reda.

Gw masih shock, Bos gw menenangkan gw dengan candaan2nya. Beberapa penumpang juga masih. Ada beberapa orang membicarakan keadaan dipesawat. Ada bule lagi asik bercerita sama orang2 lokal di sana. Ada juga mbak-mbak cerita “…… sampe loncat ….”

Akhir kata, kita pun ke kantor bentoel naik taksi. Bos gw masih penasaran, dia tanya ke supirnya.
“Kalau di Malang, cuaca begini masih normal gak ya?”
Dan dia langsung jawab “Enggak, pak. ini sudah gak normal. Tadi saja ada pesawat Sriwijaya Air sampe 2 kali muter-muter baru bisa mendarat.”
langsung saja gw dan bos gw respon : “Nah, itu kita lagi di dalem, pak.”

Ohhh.. ternyata keadaan geografis di Malang memang tidak cocok untuk mendarat. banyak gunung, awan hujan juga jadi banyak. Itulah sebabnya 2 kali pesawat Mandala bisa nyungsep di Malang.

Lain kali, sebelum bepergian pakai pesawat, cek dulu di googlemap landasan udaranya. Jika ditempat banyak gunung: BAHAYA. Jika dekat laut: AMAN. Ohh.. pantesan Bandara Soekarno-Hatta pindah dari Halim.

Fuih.. sekali lagi, Terima kasih TUHAN.

Tag Cloud