Saya ingin mencapai 70 Kg

Posts tagged ‘makan’

Puasa

Bagi non-muslim seperti saya, suasana bulan puasa di timur tengah ga enak, dibanding suasana Jakarta.

Warung makan
Di kuwait, saya biasa memesan semacam keju atau junk-food lainnya untuk makan siang. Di bulan puasa, semua warung makan TUTUP siang hari. Satu-satunya andalan saya adalah warung kecil di pojok gedung dimana saya bisa menemukan roti-roti kecil..

Di Jakarta, hanya beberapa warung yang ditutup secara tidak sempurna. Kain-kain penutup warung cuma sekedar formalitas, padahal aroma masakan kaki pengunjungnya tetap tercium dan terlihat jelas.

Hari pertama, makan di dapur.
Sesuai petunjuk dari tuan office boy,

Andra.. kalau mau makan, makan di dapur. Nanti dilihat orang, maluu

hari pertama puasa saya makan di dapur demi menghormati rekan kantor yang pada umumnya berpuasa. Bahkan, tuan office boy menyajikan teh hangat saya di dapur.

eugh! Lebih baik saya menahan malu, ketimbang menikmati suasana makan di dapur. Akhirnya hari-hari selanjutnya saya nekad saja makan di tempat biasa.

Transportasi
Sangat sulit menemukan Taxi pukul 6 sore.
Padahal angkot jakarta masih beredar sore hari. Bahkan, sopirnya satu suku sama saya (batak).

Ucapan Ramadahan, Poster, Iklan layanan masyarakat
Entah apa arti sebenarnya dari Ramadhan Kareem yang saya temukan di bulan puasa, bagi saya seperti menggantikan kata-kata selamat menunaikan ibadah puasa. Tapi jaraaang sekali. Tidak seperti menemukan ucapan selamat berpuasa di pojok-pojok Jakarta.

Saya kangen dengan poster-poster kreatif A Mild, permainan kata-kata lucu seperti itu tidak ada di Kuwait (lebih tepatnya, tidak ada yang berbahasa inggris)

Buka puasa bersama teman-teman
Yang paling saya lewatkan adalah buka puasa tahunan bersama teman-teman kuliah 😦

Advertisements

Budaya makan orang Cina.

Setiap suku memiliki budaya masing-masing dalam melakukan beberapa hal yang diatur dalam adat.
Contohnya gw. Sebagai orang batak asli, gw wajib memanggil sebutan ‘Tulang’ kepada saudara laki-laki nyokap, dan memanggil ‘Namboru’ kepada saudara perempuan bokap.
Dan setiap berkenalan dengan orang batak yang lain (terutama yang dari kampung), gw harus menyebutkan marga gw: Tambunan. Kalau kita ternyata gak satu marga, maka gw akan ditanyakan marga nyokap. Pokoknya cari tahu apakah gw dan dia punya relasi seperti apa. gw manggil dia apa, dan sebaliknya. Itu namanya tarombo dalam adat batak.

Balik ke judulnya.
mengenai makan siang, gw gak tahu pasti adat makan orang batak seperti apa. yang pasti Bokap dan Nyokap gw bakalan marah kalau makanan yang disediain gak habis atau disisain.

Nah, kebetulan gw lagi di kantor Rodamas untuk mengerjakan sesuatu.
Disini ada makan siang gratis, dan disediakan di ruang makan.
Dari tata cara penyajian makanan, cina banget. Ada puteran ditengah, jadi lauknya bisa keliling.
Menunya pun 4 sehat. ada nasi, lauk, sayur dan buah.
Sepertinya sih prasmanan, tapi per meja.
Yaitu jika ada sekitar 6 orang dalam 1 meja, maka makanan akan disediakan.
Kalau jumlahnya masih kurang, maka akan digabungkan dengan meja yang lain.

Gw pun mulai comot dari masing-masing makanan yang ada.
Dan gw persilakan yang lain untuk mengambil.
Karena gw juga anak baru disini, jadi gw masih belum berani nambah. gengsi dong.
Tapi gw ngiler juga ngelihat perkedel tinggal satu.
Gw comot aja.
Terus ada lagi sayuran tinggal dikit.
Gw abisin aja.
Sesuai dong dengan ajaran bonyok gw: pantang makanan gag diabisin.
Tapi ternyata gw salah, ajaran bonyok gw gag bisa diterapin disini.
Bos bos di kantor gw orang cina, manajer disini pun cina, supervisor gw pun cina.
Karena tata penyajian makanan pun cina, maka kita harus makan sesuai dengan aturan makan orang cina: Jangan dihabisin.
Gw dapet info dari Ridwan (orang cina juga) tentang budaya makan cina ini.

DUh ..! bertolak belakang banget yak.
Jadi malu ;p

Udah ah. Gw makan siang dulu ya..

Tag Cloud