Saya ingin mencapai 70 Kg

Seseorang pernah bercerita situasi ekonomi, sosial dan politik yang sedang terjadi di Bangladesh. Sesuai isi penceritaan yg saya tangkap, kehidupan sosial disana jauh lebih dalam ‘jurang’nya. Bisa anda bayangkan negara yang ‘jurang’ sosialnya jauuuuuuuh lebih dalam dari negara kita? (ya tentu bisa). Oleh sebab itu, tidak heran apabila ada ‘bujang’ Bangladesh yang mau giat bekerja demi mendapatkan daun (ya, benar! daun yang jatuh dari pohon) untuk dimakan. Tapi saya tidak ingin membahas lebih jauh mengenai gizi daun, sebab ada yang lebih menarik lagi: Kebiasaan demonstrasi di Bangladesh.

Demonstrasi = Kebiasaan
Ada juga budaya kebiasaan demonstrasi yang terjadi di sana, tidak sama persis, tapi tidak terlalu berbeda jauh dengan di Indonesia.

Dalam seminggu, bisa ada beberapa kali demonstrasi. Tapi itu cuman komoditas mereka saja untuk mendapatkan uang. Kan jalan-jalan kita jadi terhambat tuh. Nah kita harus melempar koin-koin ke pinggir jalan supaya mereka menyingkir dan berebut koin. Pokoknya asal ada gemerincing koin, kesanalah mereka pergi

.

Lah.. ga beda jauh dengan Indonesia kan? Beda sih. Tapi ada kemiripannya koq. Coba saja lihat kelakuan demonstran preman Indonesia di sini, sono.

Demonstrasi = Komoditas
Pembelaan terhadap agama menjadi kedok untuk melakukan premanisme semata. Pernah seorang pedagang makanan pinggir jalan di tebet bercerita. Beberapa hari sebelum penggerebekan dengan judul “Dilarang berjualan makanan di bulan suci Ramadhan”, perwakilan mereka datang untuk meminta ‘upeti’. Tuh kan, ujung-ujungnya aksi demonstrasi dan penyerangan adalah komoditas utama mereka untuk mengisi perut.

Katanya sih mau bela agama, tapi sehari sebelumnya minta ‘upeti’.
Kagak mau kasih upeti? terima saja akibatnya.

UUP = Ujung-Ujungnya Perut.

Ingin membela rakyat kah?
Ingin membela agama kah?
Dugaan saya, yang terjadi di monas hari ini juga berujung pada masalah yang sama, cari perut untuk perut.

Advertisements

Comments on: "Demonstrasi = Komoditas" (9)

  1. Kepada YTH,
    DETASEMEN 88 ANTI TERORIS
    Di Tempat

    Saya melaporkan bahwa ada suatu gerakan teroris yang sangat membahayakan jiwa masyarakat umum dan keamanan secara umum.
    Kelompok teroris tersebut bernama FPI atau disingkat dengan FRONT PEMBELA ISLAM, adalah suatu kelompok teroris yang setiap saat bisa membunuh siapa saja.
    Mohon segera diproses secara hukum dan kelompok teroris tersebut segera dibubarkan, serta para anggota yang diidentifikasi ikut di dalamnya untuk segera dilakukan penangkapan dengan segera.

    Indonesia, 2 Juni 2008.

  2. keduax!

    Stujuh dra!

  3. kita hidup ditengah2 aja… jangan terlalu ke pinggir.. kanan atau kiri… bisa jatuh nanti… 🙂

  4. @anthony steven,
    yang sekarang lagi demo di depan depkeu, FPI bukan?

    @az&fa,
    Nggak takut ketabrak mobil, mas?
    hihihi 😀

  5. ngomongin tentang bangladesh…
    temen saya yang dr bangladesh bilang: kenapa bangladesh sering banget kena banjir?
    karena letaknya diPINGGIR…
    coba aja liat di peta bangladesh letaknya dipaling bawah… makanya sering ketimpahan air dari yang diatasnya…:)))

  6. Yang dinamakan teroris itu orang islam yang menyerang orang barat dan non muslim. Kalau non muslim menyerang orang islam bukan teroris mas. Apalagi muslim serang muslim.

    Begitulah pelajaran yang diberikan CIA kepada polisi indonesia dan dunia.

  7. Refly Hadiwijaya said:

    pemalakan gaya baru….

  8. @Arwana,

    Situ orang CIA? Sok tahu!

  9. @Arwana

    Jangan sedikit-sedikit CIA, FBI, Barat…..

    Coba selidiki lebih dalam…..

    Belajar berpikir kritis 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: