Saya ingin mencapai 70 Kg

Di negara sendiri, jumlah kuwaiti tidak lebih banyak dari pencari dinar dari luar negeri (baca:expatriat). Yang mendominasi expatriat disini adalah India, bangladesh, pakistan, mesir. Indonesia sedikit, itu pun bekerja di rumah. Banyak yang masih baru seperti saya, ada juga yang sudah belasan tahun mengeruk dinar di sini sampai mukenye berubah jadi onta.


Expatriat yang bekerja disini tidak harus adalah yang memiliki skill terbaik di negaranya dan tidak selalu mendapatkan pekerjaan yang wah disini (bandingkan dengan expat di Indonesia yang skillnya segitu, tapi gajinya lebih banyak). Ada supir, salesman, programmer, dokter, pengacara, pendeta, pedagang kaki lima, dll. Hampir semua jenis pekerjaan dilakoni oleh expatriat di Kuwait. Oleh sebab itu, saya jarang sekali berhadapan langsung dengan orang kuwait asli kecuali bos.

3 analisa sederhana yang saya peroleh dari teman-teman disini mengapa orang kuwait lebih suka mempekerjakan expatriat dibandingkan orang kuwait sendiri:
1. Gaji lebih murah.
2. Kemauan bekerja lebih besar.
3. Lebih patuh

Sedangkan kebanyakan orang Kuwait sendiri mengambil perannya sebagai tuan tanah (baca: tuan pasir), menjadi pemimpin perusahaan, pemilik restoran, aparatur negara, polisi, raja minyak. Dan memang jenis pekerjaan eksklusif tersebut dipegang oleh Kuwaiti.

Setelah 1 bulan lebih berada di tanah (baca:pasir) Kuwait, saya masih tidak habis pikir mengapa lebih dari 80% (menurut data teman saya yang bekerja di Kedutaan Besar RI di Kuwait dan kerjaannya memang mengurusi data TKI) orang Indonesia di negeri ini bekerja di rumah. Padahal saya yakin sekali kualitas kita bisa lebih dari itu. Programmer banyak, blogger (baca:hacker) banyak, pembalap (baca:pengendara motor yang suka nyelap-nyelip) jago, apalagi ahli negosiasi (baca:pak polisi). Seriusnya, SDM di Indonesia tidak kalah dengan negara-negara seperti India, dkk. Tapi mengapa standar pekerjaan yang disediakan adalah PR (Pekerjaan Rumah).

Permasalahannya adalah bahasa.
Kalau saya membandingkannya dengan orang Mesir, Iran dan Libanon mungkin menjadi tidak adil karena mereka mampu berbahasa Arab dengan baik walaupun tidak begitu dengan kemampuan bahasa inggrisnya. Oleh sebab itu, saya lebih tertarik untuk membandingkan negara kita dengan India dan Philipina, dimana kita sama-sama tidak memakai bahasa Arab ataupun Inggris di negara masing-masing. Maka kemampuan bahasa Inggris kita juga sama. Tetapi kenyataannya mereka sudah lebih maju.

Saat ini di Kuwait, tenaga kerja un-skilled banyak disalurkan dari Indonesia, India, Nepal, Bangladesh. Dulu, tetangga kita Philipina juga adalah penyalur tenaga kerja un-skilled. Namun sekarang, mereka semakin tersisih dari kompetisi tenaga kerja un-skilled dan bergeser ke persaingan tenaga kerja skilled. Begitu pula dengan India. Mengapa Indonesia tidak bisa?

Duh, semoga postingan ini tidak terlalu tendensius dan dianggap mengada-ada. Tapi menurut gw, kita lebih jago dari mereka kok. hiks.. hiks.. 😦

EH, ngomong2 soal kemampuan bahasa inggris, liat ini deh.
Kalo gak bisa buka you tube,

Advertisements

Comments on: "Bahasa menjadi masalah tenaga kerja Indonesia" (5)

  1. setuju banget dah sama analisanya

    wonder, gimana bahasa yang dipake di TKI yang 80% itu? pake bahasa tubuh kah.. haha ;9

  2. anwarchandra said:

    kalau TKI pake bahasa kepala (ngangguk2)
    majikan pake bahasa tangan, kadang kaki. Bahkan pake minyak panas juga ada..

    ~parahDah
    ~sebeelGw!

  3. Rasanya kalau TKI dibandingkan dengan dua negara tadi (India dan Filipina) mengenai skill bahasa Inggris rasanya tidak tepat juga.

    Di dua negara itu, bahasa inggris udah jadi keseharian. di Filipina, bahasa Inggris jadi bahasa pengantar di semua sekolah (ini penuturan temen kerja dari filipino). Di India, kan bekas jajahannya Inggris, jadinya Inggris jadi salah satu bahasa resmi mungkin. Padahal kualitas kerja orang Indonesia (di tempat saya bekerja) lebih bagus lho dibandingkan dengan filipina atau India

    Jadi, menurut saya kurang pas aja.
    akan lebih pas kalo membandingkan kemampuan bahasa Inggris TKI dengan orang Kuwaiti/Arab lainnya. Membandingkan skill kerja dan kemauan kerja keras dengan dua negara berkembang tadi

    tapi apess banget ya jadi orang indonesia, punya skill lumayan dan mau bekerja keras, tapi kok ya gak didukung dengan kemampuan bahasa inggris yang bagus.

  4. saya rasa bahasa memang menjadi salah satu masalah dalam tki di indonesia,saya rasa pemerintah perlu mendirikan sekolah kursus khusus calon tki yang akan bekerja.

  5. @ade, sepertinya hal tersebut tidak terlalu diperlukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: