Menambal jahitan orang lain
Baju yang mesti saya tambal saat ini, adalah jahitan tangan orang lain. Mesin jahit boleh sama tapi pemilihan bahan dan teknik potongan baju ini sangat berbeda dengan pilihan bahan yang saya rekomendasikan dan teknik potongannya terlalu rumit dan berlapis-lapis untuk dipakai musim panas. Akhirnya yang memakai baju itu panas, saya juga jadi panas. Bukan sok bisa, sok jago, cuma agak sedikit rasis *dasar india gebleg :p* Mungkin juga saya pernah melakukan demikian, hmm, ada baiknya saya tanyakan kolega saya.
saya teringat pada nasihat kolega lama tentang penamaan sebuah variable. jika perlu, katanya, luangkanlah waktu beberapa menit untuk menentukan nama variable yang tepat atau diskusikan dengan teman. wah benar-benar klise, tapi saya masih sering memergoki variabel aneh dan akhirnya saya mentok. ternyata ide klise ini patut didengarkan dan dipraktekkan.
Sebagai penjahit muda yang bersahaja, saya mengajak anda-anda semua belajar untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai standar, supaya terukur dan mudah dimengerti orang lain. Itulah sebabnya, 80 tahun yang lalu, ada sumpah pemuda.

oh ngomongin variabel toh….
ya ampun..ternyata sumpah pemuda.
btw, kenapa gw harus hati2? dimananya ndra? postingan gw aman2 aja ga sih?
Wakakakaka, setuju orang-orang jaman dulu seneeeng banget bikin baju berlapis-lapis, alasannya sih biar rapi dan gampang di-maintain. Tapi kenyataannyaaa, cuma nyusahin gw (dan Randu) aja nih. Mana hasil bajunya bolong-bolong dan ga ada dokumentasinya lagi.
Lebih parah dari itu, turnover tukang jahit terdahulu tinggi banget. Jadinya teknik dan style jahitannya beraneka ragam di tiap bagian. Mampusgila.com