Andra & my Backbone

Pengamen idola

Posted in Opini by Andra on August 6, 2008

bertemu kembali bersama kami pengamen jalanan ..na na na.. na na dari pada kami mencuri.. na na.. na na.. na nana dari pada mencopet lebih baik kami nana nana..
bapak ibu yang budiman dan budimin, seribu dua ribu tidak akan membuat miskin, saya belum makan 5 hari butuh uang sekolah blah blah blah..

Peribahasa pelanggan bus jakarta
Di DKI Jakarta, ada peribahasa: sekali mendayung, dua tiga pengamen terlampaui. Khususnya bagi pelanggan bus jakarta atau bandung. Pengamen ada di setiap sudut Jakarta sama seperti banggali ada di setiap sudut negara Kuwait.

Sejak kapan budaya mengamen di Jakarta?
Saya tahunya semenjak baru mengenal pekerjaan orang dewasa seperti dokter, pilot, petani dan pak-RT-tukang-palak-uang-rokok. Mungkin pengamen sudah sejak jaman sunda kelapa, tetapi tak pernah dicatatkan dalam buku PSPB, siapa tokoh pengamen saat itu.

Pengamen, kebanggan Jakarta?
Ada yang suka, banyak yang tidak suka dengan pengamen. Bahkan takut, benci, tutup hidung dan mencurigation. Apalagi yang bernyanyi cuma setengah lagu sambil setengah mabuk dan minta setengah memaksa. Rasanya rugi, memberi seceng untuk cicilan biaya mabuk, ngen**t dan ngobat mereka.

Semoga sang pengamen Indonesian Idol 2008 bisa mengubah pandangan banyak orang tentang pengamen. Juga mengubah pandangan pengamen lain tentang mencintai hidup dan keluarga, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Jadi, perlukah memberi mereka uang?
Ada benarnya kata pengamat jalanan: semakin diberi, semakin menjamur.

Gunakan akal sehat dan hati nurani anda, bersama-sama. Ga punya duit di Jakarta yg sempit, kerjaan dikit, manusianya irit dan pelit. Beri mereka kesempatan, walau sedikit.

Saya pernah jadi langganan bus P6. Pengamen jam 6 pagi biasanya bersih, baru mandi, nyanyi dengan serius dan sopan dalam meminta.

Pernah juga ada yang meminta dalam bahasa inggris dan memang benar-benar lancar dan fasih pengucapannya. Saya pengagum suara merdu *mungkin karena tidak punya*. Oleh sebab itu saya memberinya uang, sesuai dengan jasanya dan caranya.

Saya pernah juga naik BUS *lupa nomor* sambil berdiri, mendengarkan lagu Tompi dengan nuansa ngerock-suara-becek-gak-ada-ojek. Gak kalah ama suaranya Tompi. Tapi tiket konsernya Tompi jauuuh lebih mahal, musti capek-capek tepuk tangan pula. Kalau urat malu saya sudah putus, mungkin saya bantuin dia pake suara 2. ~EhJanganDehEntarMalahHancur~

Yang paling berkesan adalah bertemu gitaris batak tulen muka kotak-kotak nyanyi lagu gereja kontemporer yg baru. Terkejut my heart, rasanya ingin bertobat saat itu juga *maaf, berlebihan*. Walaupun katanya: cari duit dengan agama.

Jadi, perlukah memberi mereka uang?

Tagged with: , ,

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Tri said, on August 11, 2008 at 12:19 am

    Wah, wah, pengamen ada di mana – mana ya

  2. EsTehTawarâ„¢ said, on August 13, 2008 at 12:30 pm

    Lah pengamen nya makan silet malahan. :(


Leave a Reply